Langsung ke konten utama

Artikel Tafsir Tarbawi Pendidikan Pranatal

PENDIDIKAN PRANATAL DALAM AL-QUR’AN
Sri Wahyuni Mohamad (sriwahyunimohamad112@gmail.com)

Abstrak:

Artikel ini membahas tentang Pendidikan Pranatal yang terkandung dalam Al-Qur’an. Pendidikan Pranatal adalah pendidikan yang dilakukan sebelum kelahiran anak. Islam memberi informasi yang sangat berharga melalui kitab suci Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Di dalam kitab suci ini diinformasikan bahwa sejak dalam kandungan, janin sudah bisa menerima pendidikan dari sekitarnya. Melalui belaian kasih saying, berdoa, dan beribadah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kepustakaan. Dengan tujuan untuk melakukan penelitian terhadap Pendidikan Pranatal yang terkandung dalam Al-Qur’an. Artikel ini juga menggunakan analisis mufrodat, bahasa dan sastra. Juga pendangan para ahli mengenai pendidikan prenatal. Pendidikan prenatal akan menjadi sebuah kebutuhan dalam masyarakat dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas tinggi, berilmu dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
KATA KUNCI: Pendidikan Pranatal, Al-Qur’an, Islam
PENGANTAR:
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat diperhatikan dalam Islam, karenakeberadaan pendidikan merupakan seuatu keharusan bagi seluruh manusia untuk dapat menunaikan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an (Depag, 2005) surat al-Baqarah ayat 30 yang Artinya: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. al- Baqarah: 30).
Pranatal berasal dari kata pre yang berarti sebelum, dan natal berarti lahir. Jadi, pranatal adalah sebelum kelahiran, yang berkaitan atau keadaan sebelum melahirkan. Menurut pandangan psikologi,pranatal ialah segala upaya manusia sebagai calon suami istri yang berkaitan dengan hal-hal sebelum melahirkan yang meliputi sikap dan tingkah laku dalam rangka untuk memilih pasangan hidup agar lahir anak sehat jasmani dan rohani. Dengan kata lain, pranatal merupakan segala macam aktifitas seseorang mencakup sebelum melakukan pernikahan, setelah melakukan pernikahan, melakukan hubungan suami istri, hamil hingga akan melahirkan. Aktifitas yang dimaksud merupakan segala tindak tanduk laki-laki maupun perempuan.
Masa pranatal ini merupakan masa yang sangat penting karena, dimasa ini manusia memulai proses pembentukan dan beberapa aspek perkembangn seperti terbentuknya kecerdasan, kepribadian, kemampuan, bakat dan lain sebagainya. Oleh karena itu, banyak orang tua yang sangat memberikan perhatian lebih terhadap calon buah hatinya untuk kebaikan si calon bayi secara sempurna dan matang
Begitu juga dalam pengembangan potensi seorang anak, proses pendidikan harus sudah disiapkan sedini mungkin oleh orang tuanya, bahkan sejak anak tersebut belum lahir agar pembentukan karakter anak dapat tercapai. Pada hakikatnya, tumbuh kembangnya seorang anak tergantung bagaimana ia dalam asuhan keluarga. Keluarga adalah komunitas kecil yang muncul sebagai buah dari hasil pernikahan. Dalam hal ini, Islam memulai pembinaan keluarga dan rumah tangga dengan nurani individu yang asasi yaitu, yaitu “kasih sayang”. Agar tujuan ini tercapai maka Islam mengajarkan kepada para orang tua muslimin untuk mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya
PEMBAHASAN:
1. Ayat dan terjemahan Terkait Pendidikan Pranatal

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا 
مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ  لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Terjemah Arti:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
2. Analisis mufrodat (Bahasa dan Sastra)
Pada ayat tersebut terdapat kata qu anfusakum ( قُواْ أَنْفُسَكُمْ ) yang berarti buatlah sesuatu yang dapat menjadi penghalang datangnya siksaan api neraka dengan cara menjauhkan perbuatan maksiat, melakukan ketaatan (kepada Allah).
Selanjutnya wa ahliikum (وَأَهْلِيْكُمْ), maksudnya adalah perintahkan kepada keluargamu tentang ta’dib (mengajarkan adab) dengan cara memberikan nasehat dan pendidikan kepada mereka. Sedangkan yang dimaksud al-Ahl (keluarga) adalah istri, anak-anak dan pembantu.
Kemudian waqud (وَقُوْد) adalah sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalakan api. Sedangkan (النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ) manusia dan batu dengan menjadikannya bahan yang menyalakan api neraka, yang dimaksud manusia di sini adalah orang-orang kafir dan batu maksudnya adalah batu berhala yang biasa disembah oleh masyarakat jahiliyyah.
‘Alaihaa Malaikatun ( عَلَيْهَا مَلئِكةٌ) dalam ayat tersebut maksudnya malaikat Zabaniyah yang berjumlah sembilan belas yang bertugas menjaga neraka dan menyiksa penguninya.
3. Asbabun Nuzul
Diriwayatkan bahwa nabi menggilir para istri. Ketika tiba giliran Hafshah, maka dia meminta izin berkunjung kepada orang tuanya dan nabi memberi izin. Ketika hafshah keluar, nabi memanggil seorang budak perempuan beliau yang bernama Mariyah al- Qibtiyah dan berbincang-bincang dengannya di kamar Hafshah. Ketika Hafshah kembali, dia melihat Mariyah di kamarnya dan sangat cemburu seta berkata, “Anda memasukkan dia ke kamarku ketika kami pergi dan bergaul dengannya di atas ranjangku ? kami hanya melihatmu berbuat demikian karena hinaku di mata mu”. Nabi bersabda untuk menyenangkan Hafshah, “sesungguhnya aku mengharamkannya atas diriku dan jangan seorangpun kamu beritahu hal itu.” Namun ketika nabi keluar dari sisinya, Hafshah mengetuk tembok pemisah antara dirinya dan Aisyah, dan memberitahukan rahasia tersebut. Maka nabi marah dan bersumpah bahwa beliau tidak akan mengunjungi para istri selama sebulan. Maka Allah menurunkan ayat, Hai Nabi mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu.
Kemudian setelah ayat 6 ini turun terjadi peristiwa seperti berikut : Telah diriwayatkan, bahwa Umar berkata ketika ayat itu turun, “Wahai Rasulullah, kita menjaga diri kita sendiri. Tetapi bagaimana kita menjaga keluarga kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Kamu larang mereka mengerjakan apa yang dilarang Allah untukmu, dan kamu perintahkan kepada mereka apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Itulah penjagaan diri mereka dengan neraka.”
4. Hadist terkait
Pendidikan pra natal juga di jelaskan dalam Hadits Nabi, diantaranya hadits yang berbunyi:

(اَلشَّقِىٌّ مِنْ شَقِىٌّ فِى بَطْنِ اُمِّه (رواه مسلم عن عبدالله ابن مسعود)

Artinya: Anak yang celaka adalah anak yang telah mendapatkan kesempitan di masa dalam perut ibunya.
Kata asy-syaqiyyu mengandung makna umum artinya penyiksaan yang dilakukan dengan sengaja untuk si bayi dalam rahim, tidak mendapat kehidupan yang layak, atau pembunuhan janin, melakukan penyiksaan kepada orang tua hamil yang berdampak pada bayi, atau melakukan kesalahan dalam hal makanan atau minuman atau penerimaan udara yang dihirup si ibu bayi, dan atau lain-lainnya yang berakibat patal kepada kelangsungan hidup dan kehidupan sang bayi dalam kandungan.
Hadits di atas menegaskan bahwa apa yang terjadi pada ibu ketika bayi di dalam kandungan sangat berpengaruh terhadap kondisi si bayi, dan pengaruh itu akan di bawa nanti ketika ia dilahirkan sampai dewasa. Oleh karena itu berdasarkan hadits tersebut maka berarti pendidikan dapat dilakukan sejak manusia dalam kandungan.
5. Pendapat Ulama/Ahli tentang Pendidikan Pranatal
Konsep pendidikan prenatal menurut Ibnu Qayyim yang hidup pada tahun 691-751 H. sangat relevan dengan kehidupan saat ini, karena konsep pendidikan prenatal tersebut dimulai dari pemilihan jodoh dengan kriteria yang sangat sesuai dengan anjuran agama: cantik/tampan, terhormat, dan subur. Selanjutnya adalah menikah, anjuran memohon anak kepada Allah, masa kehamilan (untuk mendapatkan keturunan dan menghindarkan dari perbuatan tercela) dan pertumbuhan janin (nuthfah, mudghah dan ‘alaqah, serta terbentuknya segala organisme seperti telinga, mata, mulut, tenggorokan), penentuan jenis kelamin, ketentuan Allah terhadap Anak, kewajiban orang tua terhadap anak yang dikandung (memberi makanan yang halal dan bergizi, mendesain lingkungan yang nyaman, dan mendidik anak), dan hal-hal yang mempengaruhi pendidikan prenatal.
Pendidikan prenatal menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang termaktub dalam kitab Tuhfah al-Maudūd bi Ahkāmi al-Maulūd ini berimplikasi terhadap perkembangan potensi anak. Secara teoritis, implikasi tersebut adalah segala potensi yang dimilikinya seperti potensi keimanan, potensi emosi, potensi berpikir (otak), dan potensi fisik bisa berkembang sebagaimana mestinya. Orang tua sebagai orang yang diamanahi memegang kendali atas hal ini, sehingga para anak bisa memiliki potensi yang yang berkembang. Sedangkan secara praktis adalah potensi keimanan pada anak menjadi lebih kokoh dan hal tersebut bisa membuat dirinya selalu mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya, dan dia akan selalu bergantung kepada Allah terhadap segala kondisinya. Pada periode prenatal ini perkembangan otaknya juga bisa dimaksimalkan, dia akan lebih cerdas dibandingkan dengan teman-teman seumurannya. Kecerdasan tersebut sebagai dampak secara nyata dari pendidikan prenatal yang dilakukan oleh orang tuanya, dia bisa cepat tanggap, paham, dan cepat menghapal sesuatu. Sama juga dengan otak, perkembangan potensi fisik lebih ke arah kesehatan dan berfungsinya setiap organisme anak .
6. Kandung Makna
Dari Q,S At-Tahrim ayat 6 ini terdapat makna yaitu tentang pentingnya mendidik diri sendiri sebelum mendidik anak, materi pendidikan iman, metode pendidikan termasuk cara penanaman iman kepada anak sehingga terdapat hubungan timbal balik dalam pemenuhan hak dan kewajiban antara pendidik dan peserta didik, timbal balik antara peserta didik atau antara orang tua dengan anak dan anak dengan orang tus. Perintah tersebut mengenai tanggung jawab menjaga keluarga adalah dengan bagaimana cara mendidik, mengajar, memerintahkan mereka dalam segala aspek kehidupan sebagai bekal di akhirat dan membantu mereka untuk bertaqwa kepada Allah serta melarang mereka dari maksiat kepada Allah. Lebih utamanya disini orang tua paling berperan penting untuk keselamatan diri sendiri dan anak-anak mereka, penanaman agama, kebaikan serta akhlak sejak kecil menjadi prioritas utama bagi anak untuk bekal menghadapi pergaulan di masyarakat dan lingkungannya juga kelak di akhirat.
7. Nilai-nilai pendidikan
Nilai-nilai kependidikan yang terkandung dalam Al-Quran surah Al-Tahrim ayat 6, di antaranya: setiap orang tua Mukmin mempunyai peran sebgai pendidik keluarga untuk membimbing dan mengarahkan anggota keluarga agar ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah `Azza wa Jall dan bertakwa kepada-Nya, pendidikan keluarga seyogianya difokuskan pada aspek pendidikan agama yang berintikan keimanan dengan takwa sebgai realisasinya kemudian aspek akhlak dan amar ma'ruf nnahi munkar; dalam merealisasikan keimanan dimaksud di lingkungan keluarga. Orang tua berfungsi sebagai eksekutif (pelaksana) melalui keteladanan dalam mengamalkan ajaran Agama, dan sebagai supervisor (pengawas) terhadap pelaksanaan ajaran Agama oleh anggota keluarganya (anak- anak), taqwa sebagai realisasi keimanan seseorang seyogianya dijadikan sarana vital untuk memelihara diri dan keluarga dari siksa api neraka, serta metode yang digunakan dalam pendidikan sejatinya mengedepankan pelakonan, pembiasaan, dan keteladanan dari orang tua itu sendiri. Islam adalah syari’at Allah `Azza wa Jall yang diturunkan untuk seluruh umat manusia di muka bumi agar manusia dapat beribadah hanya kepada-Nya. Pelaksanaan syari’at
ini menuntut adanya pendidikan sehingga manusia pantas memikul amanat (Islam) dan menjalankan perannya sebagai khalifah Allah (wakil-Nya).
KESIMPULAN:
Pendidikan Pranatal artinya Pendidikan yang dilakukan sebelum kelahiran. Merupakan segala upaya manusia sebagai calon suami istri yang berkaitan dengan hal-hal sebelum melahirkan yang meliputi sikap dan tingkah laku dalam rangka untuk memilih pasangan hidup agar lahir anak sehat jasmani dan rohani.
Islam memulai pembinaan keluarga dan rumah tangga dengan nurani individu yang asasi yaitu, yaitu “kasih sayang”. Agar tujuan ini tercapai maka Islam mengajarkan kepada para orang tua muslimin untuk mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya
Salah satu ayat Al-Qur'an yang membahas mengenai pendidikan pranatal yaitu Q.S At-Tahrim ayat 6 tentang tanggung jawab orang tua agar menjaga anaknya terhindar dari api neraka. Dengan memberikan pendidikan yang baik sehinggal anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.



DAFTAR PUSTAKA
Andiyanto, Tri, ‘Konsep Pendidikan Pranatal, Postnatal, Dan Pendidikan Sepanjang Hayat’, Elementary: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 4.2 (2018), 195 <https://doi.org/10.32332/elementary.v4i2.1236>
HAFIZ, ABDUL, and HASNI NOOR, ‘Pendidikan Anak Dalam Perspektif Alquran’, Madrasah Ibtidaiyah, 1.2 (2016), 42–112
Hechavarría, Rodney; López, Gonzalo, ‘済無No Title No Title’, Journal of Chemical Information and Modeling, 53.9 (2013), 1689–99 <https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004>
Motors, General, and Western Europe, ‘No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title’, June, 2016
Rasyim, Armin Ibnu, and Halimatus Syadi’yah, ‘PENDIDIKAN ANAK PRANATAL MENURUT AJARAN ISLAM Armin’, Jurnal Aksioma Ad-Diniyah, 1.1 (2013), 53–64

Komentar